The Walking Dead: Invasion (2015)

Sesungguhnya aku sudah membaca serial novel ini bahkan hingga buku lanjutan setelah buku yang akan kubahas kali ini. Hanya rasanya akan tidak adil apabila aku membiarkan buku ini dilewat begitu saja. Jadi, tanpa banyak basa basi, aku akan segera memulai resensiku.

Melanjutkan novel sebelumnya, Descent, di mana semua penyintas Woodbury berpindah ke bawah tanah. Bawah tanah dalam artian memang dalam terowongan bawah tanah. Hal yang tidak baik tentu saja, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut dan anak-anak. Masalahnya dua kategori tersebut ada dalam kelompok yang dipimpin oleh Lily Caul. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Lily harus dapat memimpin orang-orang untuk membersihkan area di atas tanah agar bersih dari zombie yang kini memenuhi Woodbury. Bukan pekerjaan mudah, tentu saja.

Sesuai premis dasar The Walking Dead di mana bahaya yang lebih mengerikan dan tak terprediksi justru hadir dari sesama manusia—dan bukan zombie—maka apa yang harus diwaspadai Lily jelas bukan sekedar mayat hidup, melainkan kelompok manusia lainnya. Melanjutkan kisah sebelumnya, sudah jelas siapa kelompok yang dimaksud: kelompok di bawah pimpinan Reverend Jeremiah Garlitz. Dan demi melenyapkan Lily, Jeremiah memilih sebuah senjata yang akan digunakan melawan Lily, menghabisi kelompoknya.

Jadi ini adalah buku di mana konfrontasi dengan Jeremiah semakin meningkat tensinya.

Cukup seru. Hanya ada satu masalah yang kurasakan dan hal ini yang ingin kusampaikan di sini.

Salah satu kekuatan dari serial The Walking Dead adalah keberadaan karakter-karakternya yang menawan, bukan sekedar karakter protagonisnya, melainkan juga antagonisnya. Coba lihat Governor yang bisa dikatakan menawan. Lalu Negan. Bagaimana kita bisa tidak merasa hormat pada mereka? Sayangnya, karakter-karakter seperti itu yang kurasa lenyap dari buku-buku yang ditulis oleh Bonansinga. Tidak bermaksud berkata bahwa karya Bonansinga ini tidak dapat dinikmati. Tidak. Hanya pengukuhan karakternya itu yang kurasa kurang. Jeremiah bukanlah seorang tokoh antagonis yang kuat. Jeremiah ini sekedar seperti orang gila dengan jubah agama. Tak lebih. Jeremiah tidak berhasil memunculkan simpati dan rasa hormat. Beda antara apa yang Jeremiah ini lakukan saat ia membunuh atau menyiksa orang, dengan bagaimana Negan menegakkan aturan dan disiplin dengan menyetrika wajah sang terhukum, atau bagaimana Governor mengoleksi kepala-kepala yang ia kumpulkan dan tatap setiap kali ia bangun tidur. Beda. Jeremiah sekedar orang gila.

Lagipula rasanya memang beda dengan membaca serial novel ini saat masih ditangani oleh Kirkman. Setelah aku membaca sekitar 50 hingga 60 halaman buku ini, aku merasa seperti begitu tersendat, seperti berjalan di atas lumpur pekat dan aku harus menarik kakiku susah payah untuk melangkah. Dan baru pada bab-bab akhir aku merasa dapat melangkah leluasa lagi. Sesuatu yang sayangnya terlambat. Sayang sekali.

Belum lagi apabila kita melihat pada para penyintas Woodbury. Selain Lily Caul, Bob dan Tommy Dupree, kok rasanya aku sulit ya membedakan masing-masingnya. Semua rasanya sama. Sekedar penyintas dan pelengkap belaka.

Bahkan, Lily Caul sendiri, yang semestinya sebagai seorang pemimpin alamiah kelompok penyintas ini, ia berulang kali membuat kesalahan dalam mengambil keputusan serta melakukan hal-hal yang kupikir bodoh. Mungkin niat Bonansinga mengangkat hal-hal tersebut adalah agar Lily terlihat lebih manusiawi, bisa jadi. Tapi masalahnya, yang terjadi malah aku merasa bahwa bahkan karakter utamanya saja kurang pintar, bagaimana aku bisa merasa mampu memihaknya? Seperti misalnya, Lily lupa berapa banyak bensin yang dimiliki hanya karena ia keasyikan mengobrol dengan kawannya. Astaga, apakah kita ini berbicara soal anak remaja SMA yang terjebak di tengah wabah zombie? Yang benar saja.

Aku berharap trilogi kedua dari novel The Walking Dead ini benar dapat disudahi, tetapi aku tetap berharap akan ada penulis lain yang menggantikan Bonansinga, atau bisa saja Bonansinga tetap menulis kisahnya, hanya semoga ia mengalami peningkatan dan memberikan karakter-karakternya nafas yang lebih menghidupkan. Seperti yang Kirkman lakukan pada setiap karakternya dalam serial zombie paling mengasyikan ini.

Rating: 2/5

Penulis: Jay Bonansinga
Penerbit Thomas Dunne Books. Divisi dari St. Martin Press, 2015. 304 halaman.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s