The Walking Dead: Descent (2014)

twd-descent

Aku paham bahwa saat ini semua orang—maksudku penggemar The Walking Dead—sibuk dengan siapa yang mati digebuk Lucille dalam musim ke tujuh. Negan memang kuakui adalah karakter antagonis yang paling sulit ditebak. Banyak omong, sering melontarkan humor gelap, dan tak bisa ditebak. Tentu saja, aku setuju dengan hal tersebut. Tetapi ini dunia apokaliptik—ini bukan pasca-apokaliptik, karena wabah masih berlangsung—dan di dunia seperti ini, tak hidup terlalu luas hanya untuk memberi fokus pada satu karakter saja, atau satu momen saja.

Karakter-karakter antagonis bertumbangan satu demi satu seiring perjalanan Rick Grimes dan kawan-kawannya. Hanya saja, seperti kataku tadi, memangnya di dunia ini fokus hanya ada pada Rick dan gengnya saja?

Tidak. Tentu saja tidak.

Ada komik lain, karya dari Brian Wood, yang mengisahkan kota lain di belahan bumi yang lain dari The Walking Dead. Tapi aku tak akan memberikan resensinya di sini. Tulisan ini ada untuk membahas mengenai apa yang terjadi setelah Governor tewas. Dunia tidak berakhir dengan tewasnya Governor.

Dalam buku kelima ini, Kirkman tidak lagi menulis, semua isi ditulis seorang diri oleh Jay Bonansinga. Tapi tampaknya Jay telah paham benar soal isi kepala Kirkman, ia sudah dapat mengembangkan sendiri karakter-karakter yang dimulai oleh Kirkman. Lilly Caul yang di akhir novel keempat lalu berhasil melarikan diri dari penjara dan menemukan bahwa ada sisa-sisa penduduk Woodbury, berusaha untuk menjalankan kembali Woodbury tanpa Governor.

Sebuah upaya yang tidak mudah tentu saja, setelah sekian lama berada di bawah kendali Phillip Blake aka Governor, penduduknya tidak bisa begitu saja melupakan masa lalu mereka. Ini yang menjadi ‘tugas’ pertama dan sulit bagi Lilly apabila ia memang berniat membangun kembali Woodbury. Dan tentu saja, di dunia yang dipenuhi zombie, kehadiran zombie tidak bisa diabaikan begitu saja. Lilly harus bergerak cepat, membangun kembali komunitas Woodbury, beradu cepat dengan sekelompok besar zombie yang dikabarkan tengah berjalan dan rutenya akan melewati daerah mereka. Mungkin malah menjadikan Woodbury target. Sekelompok kecil sekitar sepuluh hingga tiga puluh zombie mungkin tidak masalah. Tapi bagaimana bila kelompok tersebut terdiri dari seratus hingga tiga ratus zombie? Dengan senjata seadanya pula.

Ketegangan yang dibangun Jay cukup layak mendapat acungan jempol saat aku telah membaca setengah buku, walaupun lantas agak kendor saat mendadak sekelompok anggota sekte religius muncul entah darimana dan menggabungkan diri bersama sekitar tigapuluh orang penyintas di Woodbury, melakukan pertahanan melawan zombie. Tidak mudah memang menghabisi seluruh zombie tersebut, tetapi semua jadi lebih mudah.

Kuakui aku agak sedikit kecewa, karena ternyata hanya begitu saja perlawanan mereka karena mendapat bantuan dadakan.

Pemimpin sekte religius yang datang tiba-tiba itu, seorang pengotbah yang karismatik, Jeremiah James Garlitz, setelah berbarengen menghabisi zombie, awalnya memang tampak cocok dengan Lilly dan Woodbury yang memimpikan sebuah masa depan komunitas yang kekeluargaan dan demokratis. Kedua kelompok yang baru saling mengenal tersebut tampak dengan mudah membaur, dan untuk pertama kalinya masa depan mulai terlihat cerah semenjak wabah hadir dan meluluhlantakkan segalanya. Tapi memasuki bab-bab berikutnya, aku sadar bahwa aku terlalu cepat berkomentar. Sekali lagi, hei, ini dunia The Walking Dead. Apapun dapat terjadi. Dan apa yang bisa terjadi, memang selalu terjadi—kecuali tewasnya Rick Grimes tentu saja, karena itu artinya serial ini tamat. Jeremiah ternyata menyimpan sebuah rahasia kelam, di mana sedikit demi sedikit rahasia tersebut terkuak dan hadir ke permukaan. Tentu saja, rahasia ini yang justru lebih berbahaya dibanding sekelompok besar zombie sekalipun. Bahaya yang juga akan dapat mengakhiri semua impian Lilly, termasuk mengakhiri hidup mereka semua.

Tampaknya memang The Walking Dead memiliki pegangan yang teguh pada premis dasar: zombie adalah ancaman yang dapat dikendalikan, sementara manusia adalah ancaman yang tak dapat dikendalikan.

Manusia memang lebih berbahaya dibandingkan zombie. Memang.

Rate: 3/5

Penulis: Jay Bonansinga
Penerbit Thomas Dunne Books. Divisi dari St. Martin Press, 2014. 320 halaman.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s