Valerian dan Laureline

Valerian-Comic-Book-Luc-Besson

Semenjak pertengahan tahun ini, tepatnya Mei lalu, Luc Besson, sineas Perancis yang sempat sukses dengan film Nikita (1990), Leon (1994) dan The Fifth Element (1997) yang lantas mendirikan studio Europa Corp. yang menjadi studio terbesar di Eropa karena berhasil menarik perhatian atas produksi filmnya seperti The Transporter, Taken dan terakhir Lucy, kini menarik lagi perhatian atas rencananya untuk memroduksi film ambisius yang diadaptasi dari komik Franco-Belgian lawas, Valerian.

Berbicara mengenai komik Valerian—yang tentu menarik perhatianku—bagi kita yang hidup di era komik Indira dan Sinar Harapan tahun ‘80-an mungkin terbangkitkan kembali kenangannya. Di sini, serial komik ini diberi judul Valerian Agen Antar Ruang dan Waktu dan terbit sejumlah 6 judul—kalau aku tidak salah, karena ada kemungkinan koleksiku yang tidak lengkap.

Bagi yang tidak tahu, lupa, atau memang tidak membaca komik ini di era tersebut selain hanya Tintin dan Asterix, maka akan kuberi pengantar sedikit.

Valerian adalah seorang agen dari Galaxity, badan kepolisian antar ruang dan waktu yang dimiliki oleh kekaisaran Terran semenjak tahun 2770. Rekan kerjanya adalah seorang perempuan cantik berambut merah bernama Laureline, yang konon berasal dari era abad pertengahan di Perancis. Aku tidak tahu soal Laureline ini sebetulnya, selain dari info yang kudapat dari internet. Masalahnya, sepanjang pengetahuanku di Indonesia buku yang membahas asal muasal Laureline ini justru tidak diterbitkan oleh Indira, entah apa alasannya. Judul episode yang seharusnya diterbitkan dalam bahasa Inggris diberi judul The Bad Dreams. Judul yang sepertinya memang tak akan pernah kulihat edisi bahasa Indonesianya. Sedih memang, tapi bukannya memang masa keemasan komik Eropa di Indonesia sudah lewat ya?

Di Indonesia, buku pertama yang terbit adalah The City of the Moving Water, yang dalam judul sini menjadi New York 1986. Di sini dikisahkan perburuan Valerian dan Laureline terhadap Xiombul, seorang ilmuwan Galaxity yang buron karena berniat menguasai masa depan. Dulu kupikir kehadiran Xiombul ini memang seharusnya pernah terjadi sebelumnya, karena dalam kisah episode ini seakan Valerian dan Xiombul sudah saling mengenal. Amat aneh apabila dalam komik episode pertama, tiba-tiba karakter utamanya sudah saling mengenal dengan tokoh antagonisnya. Ada yang merasa demikian dulu saat membaca Valerian pertama kali?

Buku episode yang berlatar belakang New York ini sebenarnya membuatku tersenyum-senyum sendiri. Pasalnya hal itu mengingatkan betapa pada era ’60-an di mana komik ini pertama kali terbit, orang-orang sudah berpikir bahwa dunia masa depan akan berantakan. New York 1986 mengisahkan kota New York yang mengalami banjir bandang parah. Seluruh kota terendam. Sementara kini, hingga hari ini kota tersebut masih baik-baik saja. Hal ini mirip dengan imajinasiku dulu, di mana pada tahun 2000 mobil-mobil akan terbang seperti dalam film Star Wars. Kenyataannya, hingga 2015—menjelang 2016—bahkan kendaraan yang ditarik kuda-pun masih eksis dan tak ada yang namanya mobil yang melayang tak menjejak ke tanah.

Tapi sudahlah, itu topik lain yang seharusnya tak perlu kubahas di sini.

Setelah New York 1986, seharusnya episode tersebut dilanjutkan dengan episode Eart in Flames. Tapi, lagi-lagi,Indira tidak menerbitkan terjemahannya. Padahal itu adalah sekuel langsung dari komik New York, dari kisah perburuan Xiombul. Di sini kita langsung disuguhi dengan episode lain dari petualangan pasangan Valerian dan Laureline, yaitu The Empire of the Thousand Planet, yang kalau di sini judulnya menjadi Planet Syrte 2720. Episode ini yang sepertinya akan diadaptasi oleh Luc Besson menjadi The City of Thousand Planets. Dalam episode ini tidak banyak aksi yang terjadi, melainkan lebih pada penyelidikan gaya detektif di mana Valerian dan Laureline menginfiltrasi kekaisaran alien Syrte yang dekaden dan menemukan bahwa ternyata planet tersebut diam-diam diperintah oleh para penyintas Terran dalam ekspedisi antariksa pertama yang tak pernah kembali.

Episode petualangan selanjutnya, lagi-lagi, tak terbit di sini, yaitu yang berjudul World Without Stars. Episode ini seharusnya penting, terutama apabila kita ingin membaca serial ini secara menyeluruh termasuk dalam pembangunan karakter-karakter utamanya, karena di sinilah untuk pertama kalinya kita menyadari bahwa Laureline ternyata jauh lebih bijaksana dibanding Valerian. Kita juga melihat bagaiaman kedua tokoh tersebut menjadi lebih dekat. Hal ini penting karena para pembaca selalu bertanya-tanya, bagaimana sesungguhnya relasi antara kedua tokoh tersebut; apakah sekedar rekan kerja, sebagai sahabat ataukah sepasang kekasih?

Tapi karena memang tak terjawab sehubungan koleksi komikku yang jauh dari lengkap, mari kita lanjutkan pembahasan per episode buku dari serial ini.

Welcome to Alflolol adalah judul selanjutnya yang amat terasa muatan politisnya. Aku lupa apa judulnya dalam edisi bahasa Indonesia, tapi aku yakin episode ini terbit di sini. Di sini dikisahkan bagaimana Valerian dan Laureline bertengkar soal cara penanganan Galaxity terhadap penghuni asli sebuah planet industrial dan bagaimana saat mereka kembali ke Alflolol dunia mereka telah berubah secara menyedihkan. Ada muatan pertanyaan kritis di sini mengenai industrialisasi dan dampak negatifnya yang tak dapat dicegah terhadap kehidupan masyarakat dalam lapisan terbawahnya.

Buku episode selanjutnya adalah The Birds of the Master, tidak ada terjemahannya di sini dan aku juga belum pernah membaca kisahnya dalam bahasa Inggris, jadi bahasan mengenai episode ini kulewat saja.

Episode selanjutnya kita dibawa berpetualangan yang mengambil latar belakang sebuah stasiun luar angkasa raksasa dalam Ambassador of the Shadow atau di sini menjadi Duta Kaum Bayangan. Di sini Valerian dan seorang duta besar dari planet bumi diculik dan bagaimana Laureline berupaya sekuat tenaga menemukan mereka. Laureline jelas makin dominan perannya di sini, aku semakin menyadari bagaimana pandangan sang penulis yaitu Christin dalam soal peran perempuan. Feminis, mungkin.

Episode setelah ini, yaitu The Fixed Earth, aku tak bisa bicara sama sekali karena belum baca dan tak ada terjemahannya di sini. Jadi kita lewat saja.

Selanjutnya, adalah The Heroes of Equinox, atau Pahlawan Equinox, adalah episode yang menjadi favoritku. Di sini dikisahkan Valerian berpartisipasi dalam sebuah kompetisi untuk melawan jagoan-jagoan dari planet lain untuk memerebutkan kesempatan membuahi sang ratu Equinox. Ceritanya memang absurd, tetapi sekaligus membuatku tersenyum-senyum sendiri. Ada sebuah ironi di sini, di mana para lelaki yang perkasa bertarung mati-matian demi dapat membuahi rahim seorang ratu. Ada pertanyaan soal stereotipikal gender dan kekuasaan di sini. Jadi seperti kubilang tadi, ada kemungkinan Christin seorang feminis.

Dalam dua episode selanjutnya—yang diterbitkan dalam dua buah buku—dan untungnya keduanya diterjemahkan di sini, yaitu Metro Chatelet Direction Cassiopea dan Brooklyn Station Terminus Cosmos atau Makhluk Aneh di Paris dan Brooklyn Terminal Kosmos, Valerian kembali ke planet bumi di era 1980-an untuk menyelidiki kemunculan misterius alien-alien yang berkaitan dengan penyelidikan Laureline di sudut lain galaxi. Kisahnya menarik, terutama dengan melihat bagaimana seorang Valerian beradaptasi dengan kehidupan di bumi.

Dalam episode Brooklyn Terminal Kosmos tampaknya kita dibawa lebih jauh dalam melihat relasi antara Valerian dan Laureline. Dalam kisah di mana mereka berdua terpisah, bekerja sendiri-sendiri dalam kasus yang juga—seakan—berbeda, hanya terkoneksi dengan telepati antar ruang dan waktu, terlihat bagaimana Christin membawa emosi pembacanya dengan baik dengan tidak secara terang-terangan memerlihatkan relasi antara Valerian dan Laureline. Ia membuat kita menebak-nebak sekaligus jadi melihat betapa indahnya hubungan kedua karakter tersebut. Manis, kalau kubilang.

Di halaman pertama episode ini kita merasakan sebuah relasi yang melankolis, di mana segala efek keterpisahan dan ketertarikan terpendam antara keduanya mulai keluar, akibat Valerian yang tak mampu mengontrol emosinya. Dan sebagaimana emosinya menyeretnya kepada kebodohan, hal tersebut juga mendorong pada nuansa yang gelap, rasa pengkhianatan, penolakan, kemarahan, apa yang dirasakan Laureline pada akhirnya juga tak terlalu berbeda. Laureline yang awalnya hanyalah asisten Valerian, semakin lama semakin terasa bahwa ia jauh lebih mampu mengontrol emosinya, sekalut apapun yang ia rasakan.

Coba perhatikan adegan berikut ini. Bukankah ada sensasi rasa pedih yang terasa, walaupun Laureline tampak berusaha tegar dan menyembunyikan impresi tersebut?

valerian-laureline-vol10-2-628x794

valerian-laureline-vol10-3-628x397

valerian-laureline-vol10-4-628x769

Ini ekspresi pedih, bukan?

valerian-laureline-vol10-31-628x530

Kisah selanjutnya, yang mengakhiri serial Valerian adalah The Spectres of Inverloch dan The Thunder of Hypsis sesungguhnya amat menarik. Mezieres dan Christin memang kuakui jenius dalam dua kisah ini. Di sini dipaparkan bahwa invasi imperialistik dari Galaxity semakin keterlaluan sehingga para penghuni sebuah planet yang kuat bernama Hypsis memutuskan untuk mengakhiri kekuasaan Terran—kekuasaan manusia, kekuatan imperialistik yang mana Valerian dan Laureline menjadi bagian di dalamnya. Untuk melakukannya, kaum Hypsis memanipulasi masa lalu bumi dan menyetel tahun 1986 sebagai sebuah titik di mana nuklir akan meledakkan seisi bumi. Tak ada yang sadar bahwa sesungguhnya justru momen itulah yang menjadi titik awal kelahiran Galaxity. Tanpa ada ledakan nuklir besar tersebut, tak akan pernah ada Galaxity dan kekuatan imperialisnya. Dihadapkan pada dilema yang sulit tersebut, Valerian dan Laureline memilih untuk menyelamatkan bumi dari bencana nuklir. Suatu langkah yang di sisi lain juga akan berakibat pada non-eksisnya Galaxity dan lebih jauhnya non-eksisnya diri Valerian sendiri.

Saga akhirnya memang ditutup dengan non-eksisnya karakter bernama Valerian yang lahir dalam era Galaxity.

Penutup yang cerdas untuk sebuah serial komik yang cerdas.

Tak heran apabila Luc Besson berkata bahwa ini adalah komik paling ia gemari saat ia masih muda, sehingga ia menempatkan proyek ini sebagai sebuah proyek ambisius yang akan ia garap selama 800 hari. Semoga saja memang proyek ini berhasil, karena secara personal, komik ini juga merupakan salah satu komik Eropa yang menakjubkan. Semoga saja.

Berikut ini daftar judul yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku menambahkan bintang (*) di belakang tiap judul yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

The City of Shifting Waters *
The Empire of a Thousand Planets *
The Land Without Stars
Welcome to Alfolol *
Birds of the Master
Ambassador of the Shadows *
On the False Earth
Heroes of the Equinox *
Chatelet Station, Destination Casiopea *
Brooklyn Line, Terminus Cosmos *

Dapat dilihat bahwa bahkan edisi bahasa Inggrisnyapun tidak lengkap. Tapi mungkin karena memang baru dimulai diterbitkan secara resmi bahasa Inggrisnya oleh Cinebook, perusahaan Inggris, di tahun 2010, memang belum lengkap dan masih akan terbit judul-judul lainnya di tahun mendatang.

Sayangnya dengan kondisi kurs rupiah yang demikian lemah seperti saat ini, terus terang berat bagiku untuk dapat membeli edisi bahasa Inggrisnya ini.

Rate: 4/5

Penulis: Pierre Christin
Seniman: Jean-Claude Mézières
Warna: Evelyn Tran-Lé
Bahasa Asli: Perancis
Publikasi: 1967 – sekarang
Penerbit: Pilote (Perancis), Dargaud (Perancis), Cinebook (Inggris), Indira (Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s