Daredevil – Season 1 (2015)

DD04

Aku bukan penggemar Daredevil. Aku memang pernah membaca komiknya, tapi itupun karena ia hadir dalam komik Punisher. Tidak pernah kubaca satu komik penuh yang memang komik Daredevil. Belum, mungkin. Tapi jujur saja, komentar beberapa kawan membuatku penasaran untuk menonton film serialnya. Kawan yang kumaksud adalah mereka yang tahu seleraku, jadi kupikir tidak ada salahnya aku mencoba menonton. 13 episode kupikir masih dapat kukejar.

Episode pertama dibuka dengan adegan perkelahian. Kutebak bahwa yang satu adalah Daredevil, walau kostum yang ia kenakan tidak seperti yang ada dalam komik. Kostum yang tidak bagus sama sekali secara estetis. Cenderung buruk malah. Mungkin aku yang memang tidak mengikuti kisahnya dalam komik, jadi tidak tahu perkembangan kostumnya. Mungkin awalnya memang begitu. Ya baiklah, mungkin memang ini adalah film serial, yang seperti Gotham, menyusuri era-era awal dari masa hidup karakter komik terkenal, jadi kostumnyapun ada perkembangan dari episode awal hingga episode akhir. Apabila Gotham menyoroti Bruce Wayne, Gordon, dan juga para kriminal lainnya di masa-masa awal hidupnya, maka Daredevil menyoroti hidup di tahun-tahun pertama Matt Murdock. Tak ada kostum merah sang manusia yang tak kenal takut, tak ada kata-kata ‘Daredevil’ disebutkan—selain di episode terakhir season perdana ini.

Marvel dalam sekian tahun terakhir ini seakan merajai bioskop dengan film-filmnya yang selalu saja menjadi hit. X-Men, Guardian of the Galaxy, Captain America, dan tentu saja, Avenger, untuk menyebut beberapa film layar lebarnya. Sementara serial televisinya, ada Marvel Agents of S.H.I.E.L.D dan Agent Carter. Tapi, berbeda dengan lain-lainnya serial ini sama sekali bukan konsumsi anak-anak kecil. Kita disuguhi lorong-lorong gelap dan kumuh Hell’s Kitchen, perkelahian jarak pendek penuh darah, tulang yang patah, dan, bahkan, kepala yang dipecahkan dengan menggunakan pintu mobil. Nyaris tidak ada adegan siang hari yang terang benderang, nyaris tak ada adegan dalam ruangan yang menggunakan lampu neon dan terang benderang. Selalu saja malam hari. Selalu saja lampu-lampu kamar berwarna kuning yang redup.

Sekali lagi, aku belum pernah membaca komiknya. Mungkin dalam komiknya memang juga seperti itu, seperti Batman yang adegannya selalu malam hari. Tapi satu hal yang membuatku memilih untuk memutar juga episode berikutnya, dan juga berikutnya lagi, hingga tuntas satu season hanya dalam waktu dua hari saja, yaitu adanya pertanyaan menarik—yang memang tidak diutarakan gamblang—tentang moralitas. Bahkan saat kita dibawa mengenal musuh besarnya, sang Kingpin, Wilson Fisk, pertanyaan tersebut tetap hadir. Saat kota memang sudah nyaris tak ada harapan, di mana korupsi menjalar di setiap sudut, baik itu jajaran hukum, media, bahkan juga bisnis perumahan, apakah hidup di Hell’s Kitchen dapat menjadi lebih baik? Bagaimana caranya menjadikan lebih baik? Beberapa sudut kota adalah kawasan yang dikuasai mafia Russia, beberapa kawasan lain oleh geng Cina, lainnya lagi geng Jepang, semua sudut seakan sudah dibagi-bagi. Penduduk biasa, seperti juga yang diangkat di banyak film, hanyalah mereka yang terjepit di tengah perang—walau tak nampak—demi kekuasaan, demi bisnis. Apakah layak harapan hidup di tengah situasi seperti itu? Matt Murdock menjawabnya, “Aku hanya ingin membuat hidup sedikit lebih baik, walau aku tak bisa menghentikan apapun hal buruk yang terjadi di luar sana.”; sementara Kingpin juga uniknya menjawab sama, “Aku hanya ingin membuat hidup lebih baik bagi kota ini bagi banyak orang.”

Mirip? Tentu saja.

Murdock ingin melawan kriminalitas dengan menghentikannya saat aksi kriminalitas terjadi, sementara Kingpin ingin membasmi dunia kriminal dengan cara masuk ke dalamnya, bahkan apabila itu juga termasuk harus mengotori tangannya dengan membunuh, mendistribusikan narkotika dan terlibat dalam human trafficking.

DD02

Tak ada jawaban mudah. Mungkin kita bisa menebaknya dengan mudah: oke, aku memilih Daredevil, karena ia tetap menjaga tangannya agar tetap bersih.

Cukup?

Ternyata tidak. Kita yang memilih aksi Murdock mulai meragu saat dalam beberapa perbincangan antara Murdock dan Claire, sang perawatnya, mulai ada pertanyaan, bagaimana kalau ternyata Murdock menjadi karakter yang sama dengan musuhnya dalam setiap aksinya? Menjadi monster yang sama dengan monster yang ia nyatakan ia musuhi.

Baik. Lalu bagaimana dengan Kingpin? Bukankah Murdock lebih baik karena tangannya lebih bersih? Coba perhatikan pembicaraan antara Kingpin dengan sang perempuan, art dealer cantik, yang ia kencani. Saat Fisk menyatakan bahwa ia sama sekali tak menyukai aktivitas kriminalnya, Murdock justru mendapatkan kesenangan dalam setiap aksinya.

Tidak ada definisi yang mudah antara baik dan jahat dalam serial ini. Saat Murdock dengan kostumnya memukuli para kriminal hingga penuh darah—dan bahkan satu orang koma karena dilempar dari atap gedung—mungkin kita bisa berkata bahwa kita berbicara mengenai kejahatan versus kejahatan yang lebih baik. Atau seperti yang secara terbuka diutarakan oleh Kingpin, bahwa untuk mencapai tujuan yang lebih baik “aku tidak bangga melakukannya, tapi aku harus melakukannya.”

Semakin jelas. Ini sama sekali bukan konsumsi anak-anak. Jauh berbeda dengan Marvel Agents of S.H.I.E.L.D. di mana moralitas baik versus jahat digariskan dengan cukup jelas. Dalam Daredevil, tak ada kekuatan super selain kemampuan merasa, mendengar, dalam tingkat yang jauh lebih baik dari kemampuan manusia lainnya. Dalam Daredevil, kita melihat sosok karakter utama yang kadang masih terkena pukulan, mendapat luka-luka parah dalam aksinya, sebagaimana orang-orang lainnya. Karakter yang bisa salah, bisa meragu.

Dengan latar belakang yang gelap dan kelam, serial ini malah lebih dekat pada Sin City dibanding pada dunia Marvel Universe yang penuh letupan membahana dan begitu wah. Daredevil mirip Sin City karena diisi oleh dunia yang kumuh, gelap dan nyaris terlupakan. Mungkin juga karena memang konon serial ini mengambil inspirasi utamanya dari miniseri komik karya Frank Miller—pencipta Sin City—yang berjudul Daredevil: The Man Without Fear yang dipublikasikan pada 1993.

Mungkin aku sebaiknya mulai mencoba membaca komiknya. Terutama karya Frank Miller tersebut.

Sebagai penutup posting kali ini, aku sudah pasti akan menunggu season keduanya yang akan ditayangkan pada tahun depan. Alasannya bukan sekedar karena aku ternyata menikmati serial ini, melainkan juga karena karakter favoritku akan hadir: Frank Castle.

DD03

Murdock yang dalam season perdana ini beraksi mirip dengan aksi Frank Castle—hanya minus membunuh—maka dalam season dua, kabarnya, kisahnya difokuskan pada interaksi—dan konflik—antara Murdock dan Castle. Konflik yang juga mengerucutkan metoda aksi pilihan Murdock sebagaimana yang kukenal sepintas dalam komiknya. Tampaknya, Frank Castle juga belum mengenakan kaos berlogo tengkorak dalam serial ini. Di atas ini adalah foto sang Punisher saat syuting season 2 berlangsung. Menjanjikan bukan?

Rate: 5/5

Aktor/Aktris: Charlie Cox, Deborah Ann Wolf, Elden Henson, Toby Leonard Moore, Vondie Curtis-Hall, Bob Gunton, Ayelet Zurer, Rosario Dawson, Vincent D’Onofrio
Produser Eksekutif: Steven S. DeKnight, Drew Goddard, Jeph Loeb, Jim Chory, Dan Buckley, Joe Queseda, Stan Lee, Alan Fine, Cindy Holland, Kris Henigman, Allie Goss, Peter Friedlander, Doug Petrie, Marco Ramirez
Produser: Kati Johnson
Editor: Jonathan Chibnall
Sinematografi: Matt Loyd
Produsen: DeKnight Productions, Goddard Textiles, ABC Studios, Marvel Television
Distributor: Netflix
Rilis: April 2015.
Durasi: 48 – 59 menit / episode

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s