Crossed: Wish You were Here Vol. 3 (2014)

 

CrossedWYWHvol3TPB-600x928

Buku ketiga ini akhirnya tiba di kantorku. Dengan gambar sampul Aeolian yang berdiri tegak di depan dan gerombolan plus-face di belakangnya, yang dengan setia mengikuti dirinya.

Dalam volume kali ini kita dibawa lebih banyak pada kisah masa lalu Aeolian dan Shaky saat mereka masih bersama dengan Gamekeeper, seorang tukang kebun di dunia sebelum merebaknya wabah plus-face dan menjadi seorang tiran dalam kelompok para penyintas pada masa setelahnya. Kita dibawa melihat transformasi sang suster, keteguhan hatinya, dan memahami bagaimana seorang pecundang brengsek seperti Shaky bisa jatuh hati padanya. Tetapi walaupun kita menelusuri masa lalu mereka berdua—yang mana aku mulai merasa bahwa sebenarnya tokoh utama dalam alur kisah komik ini sebenarnya adalah mereka berdua, dan kisahnya adalah sebuah kisah cinta mereka berdua—kita tetap juga mengikuti perjalanan harian mereka para penyintas di Cava yang relatif aman. Kubilang relatif, tentu saja, karena di dunia yang dipenuhi plus-face rasanya tidak ada harapan sama sekali. Hanya soal waktu, kalau kita meminjam ucapan Shaky sendiri di buku volume sebelumnya. Di Cava semua relatif tenang, kita hanya dihadapkan pada politik dalam sebuah kelompok kecil, kekesalan-kekesalan kecil dan konflik-konflik kecil juga. Dan konflik-konflik itu juga yang mulai sedikit demi sedikit dipicu oleh kecurigaan para penyintas pada bagaimana sebenarnya Shaky memiliki keterkaitan mendalam dengan sang suster yang kini membawa gerombolan plus-face membayangi mereka. Mulai timbul pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah mereka akan aman apabila mereka mengusir Shaky? Tapi bagaimana dengan moral yang masih tersisa dalam diri mereka apabila mereka mengusir Shaky? Apakah masih patut moral dipertanyakan dalam sebuah dunia di mana apa yang penting adalah bertahan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sebenarnya juga menarik apabila kita mau melihatnya lebih jauh. Persis seperti yang diajukan dalam serial—baik televisi ataupun komiknya—The Walking Dead, yaitu bahwa komik ini mengajukan sebuah diskursus yang serius dibandingkan hanya menampilkan darah dan kekerasan. Apabila kisah-kisah zombie umumnya menyoroti soal adegan-adegan aksi manusia versus zombie-nya saja, maka The Walking Dead menyoroti diskursus mengenai eksperimen-eksperimen sosial di mana manusia bisa hidup di dunia yang telah runtuh. Tak ada utopia Proudhonian dan Bookchinis  yang tenang dan setara sempurna bagaikan surga, yang ada adalah kekacauan demi kekacauan, perebutan kekuasaan di bawah tekanan konstan hanya demi terus melanjutkan hidup. Persis seperti itu. Diskursus ini yang menjadi menarik dalam serial plus-face karya Si Spurrier ini.

Amat realistis, bukan? Ya setidaknya jauh lebih realistis dibanding visi para aktivis anarkis ataupun komunis yang membayangkan keruntuhan sistem dunia saat ini akan mengarah pada sebuah dunia ideal.

crossed-wywh-2014-new-years

Baik. Tidak ada kaitannya gambar di atas dengan topik yang kita bahas, tapi sebuah teks butuh selingan gambar, bukan? Gambar di atas adalah gambar ucapan tahun baru dari para seniman Crossed.

Oke. Mari lanjutkan pembahasan tentang dunia ideal tadi…

Tak ada yang ideal sama sekali saat kita dihadapkan pada satu hal: bertahan hidup. Terutama apabila hidup yang tersisa tersebut ada dalam bayang-bayang konstan akan kebrutalan para plus-face. Hebat apabila mental seseorang bisa tidak rusak dalam dunia seperti demikian. Maka berangkat dari visi seperti demikianlah maka Spurrier menyusun kisahnya. Visi yang menurutku patut diacungi jempol.

Masih seputar bagaimana visi tersebut diadaptasikan dalam komik, dalam volume ini kita dibawa pada momen-momen di mana kelompok penyintas di Cava berjumpa dengan sekelompok penyintas lain yang bertahan hidup secara nomaden di atas kapal-kapal pesiar besar yang terus mengapung mengarungi samudera untuk menghindari wabah. Kita dihadapkan pada sebuah kelompok penyintas lain yang berjumlah besar dan memiliki taktik serta strategi bertahan hidupnya sendiri. Dalam dunia yang dipenuhi oleh kekerasan dan kekejaman, kecurigaan dan keinginan bertahan hidup di atas segala-galanya, interaksi kedua kelompok ini menjadi menarik—terutama dilihat dari sudut pandang Shaky yang brengsek, tentu saja.

Lalu terakhir, saat kita berbicara mengenai komik Crossed amatlah tidak mungkin untuk tidak mengulas—memeringatkan mungkin lebih tepatnya—tentang bagaimana komik ini benar-benar tidak diperuntukkan bagi semua orang. Apabila dalam volume pertama ada adegan yang amat mengganggu di mana seekor lumba-lumba diperkosa melalui saluran nafasnya saat tubuhnya ditusuk dengan belati, maka kini kita disuguhi adegan di mana seorang bayi yang telah terinfeksi dilemparkan ke udara oleh para plus-face dan ditembak hingga badannya pecah berkeping-keping. Aku sudah memberi gambarnya di atas tulisan ini. Bagaimana? Kalau kira-kira tidak kuat dengan adegan-adegan seperti itu mungkin memang sebaiknya tidak usah sama sekali mencari tahu soal komik ini. Sungguh. Aku sudah memberi peringatan.

maxresdefault

Tapi apabila tidak mengalami masalah dengan grafis penuh darah dan kekerasan seperti demikian dan mampu mengeksplorasi hal-hal lain daripada sekedar kekerasan yang terdapat dalam komik ini, maka komik ini akan menjadi amat menarik. Tidak heran apabila Garth Ennis, sang pencipta kisah plus-face ini, berkata bahwa kisah yang ditulis oleh Spurrier ini amat layak untuk dibaca.

Rate: 5/5

Penulis: Simon Spurrier
Ilustrasi: Fernando Melek
Ilustrasi sampul: Jacen Burrow
Penerbit: Avatar Press, 2014. 144 hlm.

Posting terkait:

Crossed: Wish You were Here Vol. 1 (2012)
Crossed: Wish You were Here Vol. 2 (2013)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s