Jaegir (2014)

JaegirPenjualan komik Rogue Trooper terakhir tampaknya tidak terlalu bagus, setidaknya dalam konteks standar yang diterapkan oleh 2000AD. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah memang prajurit G.I. berkulit biru itu layak untuk terus dilanjutkan kisah-kisahnya ataukah dianggap memang masanya sudah berlalu. Aku sendiri sebenarnya pesimis dengan ide untuk meneruskan kisah perjalanan Rogue untuk mencari sang pengkhianat. Bayangkan saja, setidaknya dalam ukuran komik standar, kisahnya sudah mencapai ketebalan buku Kapital karya Marx dalam ketiga volumenya. Terbayang?

Parahnya lagi, sudah sejauh itu petualangannya, masih saja belum ketemu siapa sesungguhnya sang pengkhianat yang membuat seluruh kawannya tewas saat pendaratan di Padang Kuarsa. Ayolah. Bahkan komik Deni Manusia Ikan saja pada akhirnya berakhir, setelah para pembacanya mulai kasak-kusuk dan bertanya-tanya kapan kisah Deni akan berakhir.

Mungkin para eksekutif di kantor 2000AD juga memikirkan hal yang sama. Ditambah dengan penjualan miniseri komik terakhirnya yang tidak sesuai harapan. Pasti itu membuat mereka pusing kepala. Karena tekanan itu mungkin mereka memilih untuk rehat sejenak dari Rogue Trooper dan mulai mengeksplorasi ide-ide lain. Seperti biasa yang terjadi pada industri kreatif, para eksekutif boleh pusing, tapi dari kepusingan itu sepertinya memang bisa muncul sesuatu yang berbeda dari benak tim kreatifnya. Memang tidak semua, tapi ini kan biasanya. Buktinya? Inilah hasilnya: Jaegir.

Segar? Bisa dikatakan begitu. Tapi pasti kalian akan bertanya-tanya, lalu kaitannya apa Jaegir dengan Rogue Trooper?

Apakah Jaegir adalah anggota pasukan Sothern yang ternyata juga selamat dari pembantaian Padang Kuarsa? Apakah Jaegir ini seperti Raffaella Blue dan 86ers-nya, pasukan Soutern yang juga bertempur memerebutkan Nu Earth dari para Norts?

Mari kita mundur sejenak.

Kalian yang membaca komik Rogue Trooper pasti ingat bahwa Rogue adalah pasukan G.I. dari pihak Southers, di mana musuh utamanya adalah pihak Norts, yang bertempur mati-matian memerebutkan planet Nu-Earth. Planet yang sebenarnya entah bagaimana masih juga diperebutkan, padahal sudah hancur berantakan akibat senjata-senjata kimia dan biologi. Atmosfirnya saja sudah beracun. Masih ingat?

Baiklah. Lalu kalau Rogue berada di pihak Southers, maka Atalia Jaegir justru adalah seorang investigator penjahat perang dari pihak Norts. Ini yang membuat idenya menarik, karena sang pencipta, Gordon Rennie, ingin mengeksplorasi untuk pertama kalinya pihak Norts. Selama ini para pembaca melihat pihak Norts sebagai bajingan yang memang harus dimusnahkan. Dalam komik ini, dengan hadirnya Jaegir, kita akan dipaksa untuk melihat bahwa toh sebetulnya pihak Norts tidak seburuk yang kita kira.

Di sini kita akan mengikuti perjalanan Kapitan-Inspector Atalia Jaegir yang bekerja bagi biro pemerintah fasis yang bertanggungjawab untuk menangkapi para desertir, penjahat perang, serta memberantas korupsi. Dalam kisah ini, Atalia melacak sebuah virus yang pertama kali disinyalir beredar di kalangan kasta ksatria di antara penduduk Norts. Sederhana saja memang kisahnya, walau juga sedikit demi sedikit membawa kita mengenal siapa Atalia lebih jauh.

Jaegir_001

Ceritanya sendiri memang tidak terlalu istimewa, tetapi pilihan menghadirkan Atalia dan sistem kehidupan di kalangan Norts ini yang justru amat menarik buatku.

Bahkan kalau misalnya kita belum pernah membaca komik Rogue Trooper, sepertinya tak perlu khawatir saat berhadapan dengan komik ini, karena cara bertutur komik ini seperti tadi kubilang, akan membawa kita untuk mengenal siapa sebenarnya Atalia dan bagaimana latar belakangnya. Atalia membawa kita mengenal dunia distopis di mana Norts memanfaatkan senjata-senjata biokimia dan berusaha menciptakan tentara super seperti bagaimana pihak Sorthers menciptakan G.I. atau Genetic Infantryman seperti Rogue. Rennie juga cukup baik dalam paparannya sehingga kuakui komik setebal 32 halaman ini amat cukup untuk mengenal siapa Atalia dan apa yang ia lakukan sebenarnya.

Divisi tempat Atalia bekerja sebenarnya mengingatkanku pada divisi Nazi yang bernama Feldgendermerie di mana mereka adalah polisi militer sebagaimana Nordland State Police dalam komik. Gambaran bahwa negeri tempat Atalia hidup adalah negara fasis memang kentara dan terasa, dan hal ini terus terang memang membuat Atalia menjadi karakter yang kurang mendapat simpati, atau setidaknya tidak bisa semudah itu dianggap keren. Seperti Judge Dredd, Atalia mendisiplinkan dirinya sendiri berdasar aturan. Hanya bedanya, kalau Dredd kita tidak tahu banyak soal latar belakangnya, di sini kita akan dibawa untuk melihat emosi dan masalah-masalah masa kecil Atalia yang begitu membekas. Kilas balik itulah yang pada gilirannya memberi pembaca pengenalan soal siapa Atalia dan mengapa ia menjadi seperti dirinya saat ini.

Pendeknya, berdasar poin-poin di atas tersebut, nampaknya Atalia Jaegir akan dapat menjadi karakter yang cukup kuat yang pernah dihadirkan 2000AD ke dunia ini.

Dan untuk mendukung hal tersebut, rasanya Simon Coleby juga telah bekerja dengan baik. Ia berhasil menghadirkan suasana masyarakat masa depan yang muram, kelam, penuh keputusasaan, sekaligus memberi kesan bahwa mereka juga sedang berada dalam sebuah situasi perang yang konstan melawan pihak Sothers. Karakter utamanya sendiri, Atalia, sebagai seorang perempuan dan tokoh utama, amatlah tidak biasa. Ia tidak seksi dalam artian memiliki tubuh sintal, cantik, melainkan malah memiliki wajah yang keras, dengan bekas luka yang cukup mengerikan di wajah kirinya. Amat masuk akal bukan? Seorang mantan infantri, mengeras akibat pengalaman perang di lapangan, mana mungkin seseorang dapat tetap tampil cantik menawan bak model. Aku suka cara Coleby menggambarkan sang Kapitan.

Jadi pendeknya, bagiku Rennie dan Coleby telah bekerja dengan baik. Mereka berhasil menghadirkan sebuah komik yang layak dibaca, terutama bagi mereka yang mengikuti kisah sang prajurit biru Rogue. Aku sendiri menikmati Jaegir dan masih akan tetap mengikuti kisah-kisahnya yang diterbitkan dalam majalah 2000AD.

Rate: 4/5

Penulis: Gordon Rennie
Ilsutrasi: Simon Coleby
Penerbit: Rebellion, 2014. 32 hlm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s