Asterix: The Land of the Gods – The Movie (2014)

Asterix-Header

Mereka yang tumbuh di era 80 – 90-an pasti akrab dengan kisah petualangan dua Galia ini. Aku tidak terlalu tahu dengan generasi-generasi setelahnya walaupun komik dari serial ini masih bisa didapatkan di toko-toko buku seperti Gramedia, apakah respon atas penjualannya bagus, ataukah hanya sekedar menghabiskan sisa stok, ataukah para pembelinya adalah orang-orang dengan usia di atas 35 tahun, aku tidak tahu—dan tidak pernah bertanya juga. Aku juga tidak terlalu perhatian sebenarnya dengan apa kesukaan generasi saat ini, dan toh aku di sini juga hanya membahas apa yang aku suka. Bukan apa yang orang lain suka.

Kesukacitaan itu sebenarnya hadir di sekitar Desember tahun lalu, saat secara tak sengaja aku mendapat info bahwa di awal 2015 akan ditayangkan film animasi dari Asterix dan Obelix. Tentu ini kabar baik, buatku. Amat baik.

Asterix sebelumnya pernah diadaptasikan ke dalam film, baik film kartun ataupun dengan orang sungguhan. Aku juga sudah menonton film-film sebelumnya, tapi terus terang bagiku tak satupun yang membuatku puas. Terutama film yang diperankan orang sungguhan, sungguh itu benar-benar tidak lucu bagiku.

Tapi kali ini berbeda. Film ini dirilis dalam bentuk animasi yang modern, sesuai dengan semangat jaman saat ini. Dan dari potongan-potongan gambar yang terdapat di internet, entah bagaimana aku merasa bahwa film ini menjanjikan. Aku harus menontonnya, entah bagaimana caranya. Hingga akhirnya, bulan ini, tepatnya dua minggu lalu, harapanku tersebut menjadi kenyataan: film ini ditayangkan di bioskop! Rasanya aku merasa harus berterima kasih pada pengambil keputusan di Blitz Megaplex atas idenya menayangkan film ini.

Dengan demikian, lengkap sudah penantianku dan kini saatnya aku mencatatnya di sini.

Karakter utama dalam kisah petualangan Asterix.

Karakter utama dalam kisah petualangan Asterix.

Asterix aslinya adalah sebuah serial komik yang dipublikasikan pertama kali pada 1959 oleh penulis brilian bernama René Goscinny, seorang jenius yang juga menulis Oumpah-pah, Iznogoud dan Lucky Luke—yang semua judul tersebut diterbitkan juga di sini. Sementara untuk gambar dihasilkan melalui tangan Albert Uderzo—yang menggambar untuk Tanguy dan Laverdure. Mengambil latar masa kejayaan Romawi di Eropa, kisah Asterix sendiri berpusat pada petualangan seorang pejuang Galia dan desa kecilnya dalam memertahankan diri dari invasi Romawi. Dalam waktu singkat Asterix meraup sukses besar dan menjadi salah satu komik Franco-Belgian yang terkenal di dunia. Seperti halnya karya-karya yang mendunia, kita pasti akan mendapatkan film adaptasinya.

Setelah film adaptasi terakhirnya yang diperankan oleh orang sungguhan berjudul “Asterix & Obelix – On Her Majesty”, yang tidak kusuka, Alexandre Astier dan Louis Clichy hadir dengan film animasi sang Galia. Hasilya? Luar biasa.

Berkisah soal upaya tak kenal lelah dari Julius Caesar untuk menduduki sepenuhnya Eropa—terutama desa kecil Galia—kini Caesar dan Romawi hadir dengan ide yang lebih maju: menguasainya melalui akulturasi budaya. Maka, taktik berubah. Bukan lagi kekuatan militer yang dijadikan ujung tombak, melainkan pihak pengembang. Bukan barak militer yang dibangun dekat dengan desa Galia, melainkan sebuah kondominium eksotis. Dengan membawa budaya dan gaya hidup Romawi ke dekat desa Galia, pihak Romawi berusaha meyakinkan agar para Galia bergabung dengan Romawi. Apabila para Galia tersebut hidup dengan bangsa Romawi, dengan tata cara Romawi, bukankah sebenarnya Galia artinya telah berada di bawah kekuasaan Romawi? Demikianlah apa yang hadir di benak Caesar.

Maka pembangunan Kondominium yang berdiri dekat dengan desa Galia, dimulai. Setelah beberapa friksi yang terjadi dengan warga lokal, toh pada akhirnya kondominium berhasil berdiri dan warga lokal mulai mengadopsi gaya hidup para pendatang. Hingga satu titik di mana Asterix merasa muak, sedih, saat melihat bagaimana semua hal telah berubah dan mulai tak lagi ada tempat bagi seorang pejuang Galia seperti dirinya dalam dunia yang baru.

Alur kisah selanjutnya, seperti biasa, kita akan melihat kegagalan Romawi. Seperti biasa. Hingga berakhir dengan kepergian pasukan Romawi yang babak belur dan ditutup dengan pesta para warga desa Galia, dengan babi panggang, tentu saja.

Asterix-ComicAstier mengadaptasikan kisah karya Goscinny yang di Indonesia diterbitkan dengan judul “Negeri Dewa-Dewa” dengan amat baik. Sentuhannya Uderzo juga terasa walaupun telah dibuat dengan sentuhan modern. Memang, gaya humor Goscinny dalam komik masih terasa lebih lepas dibandingkan film karya Astier ini, tetapi karakter yang dibawa masih tetap setia: dialog-dialognya, referensi terhadap kultur pop pada masanya, komentar sosial; pendeknya, mereka yang menikmati komiknya, aku yakin akan bisa menikmati film animasinya. Memang, ada beberapa kelemahan seperti misalnya sang penerjemah subtitle ke dalam bahasa Indonesia ini mestinya membaca dulu beberapa komik Asterix terbitan versi bahasa Indonesia, sehingga nuansanya bisa lebih tepat. Misalnya pada penggunaan nama, terbitan Indonesia berbeda dengan naskah aslinya, dan sebaiknya dijaga agar tetap seperti komiknya kalau menurut pendapatku; Idefix tidak menjadi Dogmatix, misalnya. Gaya bahasanya juga seharusnya diperhatikan. Tapi ketidaktepatan itu kualamatkan kepada badan penerjemah, bukan pada filmnya.

Dalam film ini, pada awal-awalnya, alur kisah benar-benar sama dengan komiknya, selain beberapa tambahan dan pengurangan yang demikian minimal, tetapi semakin lama, semakin Astier memasukkan ide-idenya sendiri—yang malah semakin menambah bobot filmnya. Ide orisinil Goscinny menjadi berkembang sedemikian rupa hingga pada akhirnya The Land of the Gods menjadi sebuah film yang lucu dan menghibur. Terutama pada bagian akhir yang penuh kekacauan.

Aaaaaaaaahhhh!!! Galiaaaaaa!!!!

Aaaaaaaaahhhh!!! Galiaaaaaa!!!!

Tadi aku katakan bahwa ada komentar sosial di sini, yang lebih terasa kuat dibandingkan dengan komiknya. Dalam soal itu, kuakui, Astier memang cukup cerdas.

Pertama, kecemasan masyarakat lokal yang berhadapan dengan pihak pengembang yang spekulatif dan gegar budaya yang menyertainya. Saat pembangunan kondominium kolosal selesai dan para warganya mulai datang ke desa lokal, mendadak para penduduk lokal menyadari bahwa semua hal yang mereka lakukan sebelumnya seharusnya dihargai lebih—dalam hal ini: dibeli lebih mahal. Hal ini dalam kehidupan nyata terjadi dimana-mana, bukan? Kisah-kisah tentang bagaimana nilai uang mulai merasuki benak warga-warga lokal yang daerah tempat tinggalnya mulai dibangun untuk kawasan wisata.

Kedua, plot di mana budak-budak dipekerjakan untuk membangun kondominium. Ini begitu miris, sekaligus nyata. Saat Asterix berupaya meyakinkan mereka untuk memberontak dan meraih kebebasannya, para budak saat mendapatkan kebebasan, justru memilih ntuk tetap bekerja tetapi dengan upah yang lebih tinggi, harapan kemapanan dan mengesampingkan perilaku majikan mereka yang tidak menyenangkan. Untuk sebuah film animasi, poin seperti ini sungguh menohok sekaligus tidak terlalu kentara sebagaimana layaknya film-film radikal.

Pada akhirnya, Asterix: The Land of the Gods adalah film yang bagus. Lucu, menyentuh, cerdas, dan secara instan telah menjadi film animasi hasil adaptasi dari komik yang menempati hatiku. Ini film Asterix favoritku.

Rate: 5/5

Sutradara: Alexandre Astier, Louis Clichy
Produser: Phillipe Bony, Thomas Valentin
Penulis naskah: Alexandre Astier
Kisah asli: Asteris: Negeri Dewa-Dewa
Pengisi suara: Roger Carel, Guillaume Briat, Lionnel Astier, Serge Papagalli, Florence Foresti
Musik: Phillipe Rombi
Editing: Soline Guyonneau
Produksi: M6 Studio, Belvision, Grid Animation, Canal+, Cine+, M6, W9, Centre National de la Cinematographie (CNC), Societe Noubelle de Cinematographie (SNC), Mikros Image, Mac Guff
Distributor: SND Films
Rilis: 6 November 2014
Negara Asal: Perancis, Belgia
Bahasa: Perancis
Durasi: 85 menit

Advertisements

2 thoughts on “Asterix: The Land of the Gods – The Movie (2014)

  1. sudah nonton. filmnya bagus. 🙂
    ending sempurna, makan malam penuh keakraban di atas puing reruntuhan roma…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s